MALIK BIN DINAR BERTAUBAT


Malik bin Dinar adalah seorang sufi ternama yang hidup dizaman tabi’in. Ia meninggal pada tahun 130H/748 M.Beliau berguru kepada Hasan Bisri ulama terkenal di kota Basrah.
Malik dikurniai seorang putri yang ditakdirkan maninggal pada usia balita.
Perginya sang putri ketika sedang dicintai membuat ia gelisah dan frustasi. Malik tak mampu menahan duka nestapa yang amat berat ini. Dalam suasana batin yang “mengambang”, Malik ingin mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Namun karena tidak ada bimbingan dan pendampingan dari “para ahli” ia terjerumus kelembah hitam yang penuh noda dan dausa.Dia mulai bersahabat dengan dunia arak, karena narkoba bersama kawannya memang belum dikenal dizaman itu.
Pada satu ketika manakala terdorong oleh ketagihan, ia meneguk arak secara over dosis. Dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri selama hampir satu bulan ia bermimpi dan berhasulinasi yang dapat merobah hidupnya dari “penghuni neraka” pindah masuk menjadi “penghuni sorga”
Malik bin Dinar bercerita, bahwa dalam keadaan mabuk ia bermimpi dimana haru hara kiamat benar-benar sedang terjadi. Bumi hancur berkeping. Mata hari meledak dan padam. Planet planet saling bertabrakan. Lautan berubah menjadi api yang membara. Sirene neraka sudah berbunyi. Diantara suara gemuruh ledakan terdengar jeritan tangis manusia. Manusia berkumpul berkelmpok- kelompok dan diarak kemahsyar untuk menghadapi proses pengadilan.
Sementara itu, kata Malik, mereka menunggu panggilan dengan rasa cemas dan rasa takut.Satu persatu dipanggil menghadap khaliq untuk mempertanggung jawabkan semua amalan yang dikerjakan diwaktu hidup.Tidak ada yang senyum ketika menghadap pengadilan, semua dalam keadaan ketakutan dan kebingungan.
Malik melanjutkan cerita mimpi, ketika itu saya tinggal sendiri, sementara yang lain sudah menghilang dari pandanganku. Aku mendapat giliran menghadap mahkamah mahsyar. Ketika aku hendak menghadap mahkamah pengadilan tiba- tiba aku dihadang oleh seekor ular yang berukuran panjang dan besar. Aku nar merasa takut dan berlari menyelamatkan diri. Ular tersebut dengan mulut terbuka lebar mengejar terus hendak menelan dan menggigit aku dari  arah belakang.
Saya terus berlari menyelamatkan diri dan bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sudah uzur.Saya memohon kepada laki laki tua tersebut untuk melindungiku dari bahaya ular. Namun apa yang terjadi, laki –laki tua tersebut memohon maaf kalau ia tidak dapat membantuku, mengingat ia tidak lagi memiliki tenaga dan kekuatan karena ia sudah cukup tua.
Malik melanjutkan cerita mimpinya. Laki laki tua tersebut hanya mampu memberi saran. Anakku kata laki laki tua itu: “Larilah kamu kesana, sambil memberi isyarat dengan telunjuknya”. Lalu saya lari kearah yang ditunjuk laki-laki tua, tetapi dari depan saya dihadang oleh neraka sementara ular semakin mendekat. Perasaanku ketika itu dalam hitungan menit, saya pasti akan sudah tertangkap oleh ular. Kemudian saya berbalik arah sambil berlari menghindar dari kejaran ular. Saya berjumpa lagi dengan orang tua tadi. Dia menangis terisak isak, dan merasa kesal karena tidak dapat membantu. Dalam suasana kritis dan terancam ia berkata:” Anakku larilah kamu keatas gunung sana”
Ketika saya mendekati gunung, saya lihat diatas gunung berkumpul banyak anak anak, kebanyakan diantara mereka adalah anak usia balita. Saya dengar mereka berseru:”Fatimah!! Itu ayahmu Malik bin Dinar. Bantu dan selamatkan ayahmu dari bahaya ular” Tiba tiba dari puncak gunung dengan tangkas meloncat seorang anak kecil. Dengan tangan kanannya ia merangkul tanganku, sementara dengan tangan kirinya ia mengusir ular. Ular pun lari, dan saya selamat dari bahaya ular.
Malik masih dalam keadaan bermimpi dan melanjutkan cerita. Saya bertanya kepada anak kecil. Kamu ini siapa? Ayah!! Saya ini anakmu, Fatimah yang neninggal ketika masih balita. Lalu saya menangis tersedu sedu. Terbayang kembali ketika dikejar oleh ular, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan. Seandainya tidak ada Fatimah anakku yang meninggal dunia waktu masih balita, sungguh saya sudah dimakan ular.
Setelah ular lari, saya bersama Fatimah seakan akan beristirahat disuatu tempat. Fatimah tidur dipangkuanku, layaknya didunia. Saya mengusap mukanya, mengusap kepalanya, sesekali mencium keningnya.Dia menatap wajah saya lama lama. Sesekali dia menarik kumis dan jenggotku. Saya bertanya kepada Fatimah. Anakku!! Tahukah kamu siapa sesungguhnya si ular itu? Itu adalah amal kejahatan ayah selama didunia. Ayah suka mabuk mabukan. Ayah tidak pernah salat. Ayah menjauhkan diri dengan Allah. Komunitas ayah, komunitas maksiat.Semua itu dirupakan Allah dengan seekor ular yang akan memakan ayah sendiri.Itu namanya, senjata makan tuan.Demikian Fatimah menjelaskan tamsilan ular kepada ku.
Kemudian saya bertanya lagi kepada Fatimah. Anakku!! Lalu orang tua itu siapa? Ayahku: Orang tua itu adalah amal kebajikan yang pernah ayah kerjakan didunia. Karena kebaikan yang pernah dikerjakan oleh ayah terlalu sedikit, maka tidak mempunyai arti apa apa, dan tidak mampu memberikan bantuan dan pertolongan kepada pemiliknya. Seandainya ayah tidak memiliki anak yang meninggal diwaktu usia balita, sungguh ayah tidak memiliki sesuatu yang bermanfaat di negeri akhirat. Demikian Fatimah memberikan penjelasan tambahaan kepadaku dalam mimpi.
Ayahku!! Apakah belum waktunya bagi ayahku untuk kembali kejalan yang benar. Kembali kejalan lurus.Bergabung dengan komunitas salihin. Apa manfaat yang dirasakan selama ayah menjadi orang mabuk.Belumkah datang waktunya bagi orang beriman untuk tunduk hatinya mengingat Allah? Segeralah ayah bertobat.
Lalu anakku, Fatimah membaca al qur an ayat 16, surat al-hadid:
ألم يَأنِ لِلّذِين آمنوا أن تَخْشَعَ قُلوبُهُم لذكر الله وما نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ ولا يَكُونْوا كَالَّذِيْنَ أوتوا الكتابَ من قبلِ فَطالَ عَليْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلوبُهم وكَثِيْرٌ منهم فاسِقُون
Artinya : Belumkah datang waktunya bagi orang beriman,untuk tunduk hati mengingat Allah,dan kepada kebenaran yang diturunkan kepada mereka, janganlah mereka seperti orang orang sebelumnya telah turun al kitab kepadanya,kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras,dan kebanyakan diantara mereka adalah orang yang fasiq.
Malik bin Dinar berkata : “Mimpi berakhir dan saya terbangun dari tidur” Ketika terbangun saya berucap: sudah waktunya ya Allah. Sudah waktunya ya Allah. Sudah waktunya ya Allah
Malik bercerita melanjutkan mimpi. Begitu terbangun saya menuju kamar mandi untuk “mandi sunat taubat”. Saya akan melakukan perobahan total. Saya taubat hari ini. Daftar dausa sudah ada. Jadwal taubat akan disusun. Taubat saya awali dengan “salat sunat taubat”.
Saya bergegas menuju masjid untuk salat subuh berjamaah. Ketika membaca ayat, imam juga membaca surat yang sama seperti saya dengar dalam mimpi.
Demikian kisah mimpi Malik bin Dinar yang dapat merobah gaya hidupnya yang penuh maksiat menjadi ulama sufi kenamaan di Iraq, semoga menjadi kajian dan renungan bagi semua orang yang sedang berenang di “lautan maksiat”



Ditulis : H. Subki El Madny


PENGUNJUNG BLOG YTH.
Bantulah pembangunan Pesantren Global Madani  Aceh Utara melalui
Rekening kami  pada Bank Rakyat Indonesia (BRI), nomor rekening :
7650-01-008340-53-3, an. Yayasan Al Madaniyah Aceh Utara.

atau kami dapat juga dibantu dengan cara para pengunjung blog ini
berbelanja di https://berikhtiar.com/nikmat.rabbi.ab3







Komentar

Postingan populer dari blog ini

AQAIDIL IMAN (BAHASA ACEH DALAM TULISAN ARAB)

ASAL USUL KEJADIAN ALAM

JANGAN BERKHIANAT